January 10, 2026
Karya Siswa IDN

Skill IT dan Pengalaman Hebat dari Solo hingga ke Lombok

Skill IT dan Pengalaman Hebat dari Solo hingga ke Lombok

Anak IT Bangun Skill Menulis Buku Bersama Kawan Sejawat

Hashiif Abdillah berbagi kisahnya dalam buku akhir semester karya kelas 11 RPL IDN Boarding School Solo. Walau mendalami skill IT di IDN, namun ia juga mampu terlibat dalam projek menulis buku yang wajib untuk siswa IDN dengan penyampaian yang hangat. Tulisannya banyak merefleksikan tentang makna pendidikan yang ia jalani di IDN dan prosesnya bertumbuh di tengah pengalaman hebat.

1 Day with Principal: Kepala Sekolah Tak Hanya Duduk di Kantor

1 Day with Principal, program pekanan setiap hari Kamis di IDN Solo ini memberikan pengetahuan yang berkesan baginya. Ia bercerita tentang bagaimana ia belajar dari perumpamaan gunung yang diceritakan oleh Kepala Sekolah IDN Solo saat itu.

“Kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman yang saya dapat dari kegiatan One Day with Principal. Ini adalah kegiatan rutin setiap hari Kamis, di mana seluruh siswa berkumpul di aula untuk mendengar arahan, cerita, dan nasihat langsung dari Kepala Sekolah kami.

Salah satu sesi yang paling berkesan adalah ketika Mr. Rizad, kepala sekolah kami, membahas soal jati diri dan karakter. Di awal, beliau menampilkan dua gambar gunung. Satu dari kejauhan yang terlihat indah, dan satu dari dekat yang tampak penuh kerikil dan bebatuan. Lalu beliau bertanya, “Yang mana aura, dan yang mana karakter?”

Dari situ, kami belajar bahwa gunung dari kejauhan yang tampak megah dan indah adalah perumpamaan dari aura. Sementara gunung dari dekat yang terlihat kasar, berbatu, bahkan keras, itulah karakter aslinya. Banyak dari kita terjebak menilai orang lain hanya dari auranya. Tapi karakter yang tak selalu terlihat di permukaan itulah yang sebenarnya menentukan siapa kita di mata Allah dan sesama manusia.

Beliau juga menunjukkan beberapa video anak muda: ada yang joget fomo, ada yang meniru gaya tak pantas, bahkan ada laki-laki yang berperilaku seperti perempuan. Dari situ beliau mengajak kami merenung, sebenarnya siapa diri kita? Apakah kita hanya ingin terlihat keren di luar atau benar-benar punya nilai di dalam?

Lalu muncul pertanyaan, “Lebih penting mana: aura atau karakter?” Jawabannya? Keduanya penting. Tapi kalau harus memilih, maka karakterlah yang akan bertahan. Aura mungkin bisa memikat orang di awal, tapi karakterlah yang akan membuat mereka bertahan di sisi kita. Wajah yang rupawan tak ada artinya kalau perilaku kita menyakiti orang. Penampilan keren pun tak berguna jika hati kita kosong.”

Membangun Aura VS Karakter

“Di IDN, kami tidak diajarkan untuk sekadar bergaya dengan laptop mahal (untuk menunjang skill IT) dan sepatu keren. Kami diajarkan kerapihan, tanggung jawab, kerja keras, dan ketangguhan. Karakter. Kami tidak dilatih pamer tapi dilatih untuk siap menghadap kenyataan lewat program seperti IDN Tangguh, Goes to Society, dan Goes to Lombok. Kami belajar bahwa karakter dibentuk oleh pengalaman, tekanan, dan lingkungan.

“Karakter terbentuk dari orang-orang terdekat, keluarga, teman, bahkan guru. Apa yang mereka ucapkan, bagaimana mereka bersikap, dan bagaimana mereka memperlakukan kita semuanya memengaruhi pola pikir dan cara kita membawa diri. Circle itu penting, tapi bagaimana kita memilih circle juga bagian dari karakter.

“Ini bukan cuma teori. Ini refleksi pribadi saya yang termasuk cuek dan bodo amat terhadap hal-hal yang saya anggap tidak penting. Tapi justru dari sifat itu saya belajar buat fokus pada hal-hal yang benar-benar esensial. Saya tidak peduli tren atau gengsi, saya lebih peduli ke arah yang saya tuju. Dan mungkin dari situ saya berharap memiliki aura saya sendiri: orang yang memiliki arah dan tujuan hidup (walau usia masih amat muda).

“Alhamdulillah, karakter itu pula yang mungkin membuat saya dipercaya jadi pengajar di Alhazen Academy untuk mengajar adik-adik di Magetan dan Solo. Ada kemauan untuk terus belajar dan siap mengambil tanggung jawab. Dan semua itu dimulai dari pembiasaan-pembiasaan kecil di IDN Boarding School.”

Antara Asrama dan Rumah: 1 Day with My Parents

Hashiif kembali membagikan kisahnya di balik rumahnya saat libur semester saat mengobrol bersama kedua orang tuanya yang lama ia rindukan.

“Gimana sekolah di IDN,” tanya ibu. Saya langsung jawab jujur, “Capek, Bu. Serius, kadang pengen keluar aja.” Saya mengatakan itu karena di IDN, mau ngapa-ngapain ada aturannya, rasanya nggak bebas. Orang tua saya malah ketawa. Mereka bilang, “Sekolah itu emang nggak ada yang enak.”

“Mereka cerita zaman mereka dulu, berangkat sekolah harus jalan kaki atau naik seperda, pagi-pagi buta, pulang sore banget, dan masih harus bantu kerjaan rumah juga. Jadi sekolah saya sekarang jauh lebih nyaman. “It is was easy, everyone would do it.” (Tom Hanks)

“Orang tua saya juga lanjut menasehati, “Jangan terlalu banyak mengeluh. Jalani aja yang udah kamu pilih. Hasilnya nanti pasti ada, kalau kamu serius dan usaha terus.”

“Kata-kata mereka terus terngingang. Saya yang salah karena terlalu fokus melihat kekurangan. Padahal banyak banget hal yang lebih enak yang saya dapat di IDN, hal-hal yang bahkan orang tua saya dulu nggak pernah nikmati pas muda. Belum tentu juga kalau saya di tempat lain, saya bisa belajar hal-hal yang saya dapat di IDN. Di IDN saya belajar mental, karakter, cara kerja tim, komunikasi, dan yang paling penting dapat koneksi yang luas.

“Menjelang akhir masa sekolah dan persiapan PKL, saya ngerasain sendiri peningkatan skill IT saya. Ujikom saya bisa selesai dengan cepat. Alhamdulillah hasilnya memuaskan dan tim saya lolos dengan nilai baik. Bahkan langsung dapat tempat magang di Semarang. Sambil terus memaksimalkan hardskill, kemampuan lain yang saya dapat di IDN membantu banget termasuk attitude dan cara kerja profesional.

“Akhirnya saya sadar, sekolah bagus itu bukan yang keren karena fasilitas, tapi yang bikin kita berkembang karena proses dan lingkungan. Hebat itu bukan karena tempat, tapi karena diri sendiri dan orang-orang yang kita pilih untuk bertumbuh bareng.”

Asah Skill IT Sampai ke Lombok: IDN Menyapa Nusantara

km. kirana kapal pelabuhan tanjung perak

Setelah 2 tahun lebih di IDN, Hashiif telah menemukan nilai berharga yang sebelumnya ia ragukan sehingga pernah merasa ingin berhenti. Program IDN semakin seru dan beragam, membuat ia semakin berkembang. Ia telah melewati berbagai kegiatan penuh warna seperti IDN Goes to Society, IDN Goes to Orphan House, dan IDN Tangguh Goes to Nganjuk. Salah satu yang sangat berkesan pula adalah program IDN Menyapa Nusantara Goes to Lombok. Tidak lagi sekadar di sekitar sekolah atau di pulau Jawa, ia dan teman-temannya melintasi banyak pulau menuju wilayah yang populer akan keindahan alamnya itu.

“Saya tergabung dalam tim bersama Farid dan Apta. Kami segera membagi tugas: Farid fokus ke toko komputer dan IT, Apta ke toko kelontong dan mainan, sementara saya menghubungi sekolah dan pondok pesantren di Lombok. Dari usaha tersebut, hanya dua yang merespons positif: Toko service komputer di Lombok dan pondok pesantren di Lombok Tengah. 

“Jam 2 dini hari, kami berangkat dari Sukuh Cottage menuju Pelabuhan Tanjung Perak. Perjalanan penuh antuasiasme meski terasa panjang. Di Kapal Kirana, saya berkenalan dengan mahasiswa hukum asal Lombok. Kami berbincang tentang perkuliahan dan hidup, yang menambah wawasan dan semangat.

“Sesampainya di Pelabuhan Lembar, kami disambut oleh Ustadz dari pondok pesantren tujuan kami lalu makan siang bersama dan menunggu pemilik toko komputer datang. Hari-hari di Lombok selama mencoba pengalamana bekerja di sana mengajarkan kami banyak hal. Waktu di sana maju satu jam, tapi ritme hidup terasa lebih santai. Pola makan kami berubah drastis: sarapan jam 10 pagi dan makan malam jam 11 malam mengikuti bos yang suka begadang dan kerja tiba-tiba. Adaptasi ini mengajarkan kami ketangguhan untuk bertahan dan terus berkembang.

“Selama sepekan kami bekerja keras menerapkan skill IT kami di toko servis komputer, sekaligus mengelola waktu dan energi dalam kondisi yang sangat berbeda. Pengalaman ini benar-benar membuka mata dan melatih mental kami.

“Di hari terakhir, bos mengajak kami berkeliling pasar membeli oleh-oleh khas Lombok sebelum ke pelabuhan dan pulang ke IDN. Seperti yang sering dikatakan oleh Mr. Damar, hidup punya tiga fase: ketika badan lelah, perut lapar, dan rasa tidak nyaman. Namun saat semuanya berlalu, kita justru merindukan pengalaman itu. Perjalanan singkat ini sarat akan makna kerja keras dan ketangguhan. Semoga pengalaman berikutnya akan lebih seru dan penuh pelajaran.”

Tak banyak yang Hashiif bawa pulang dari Lombok ke Solo. Ada uang saku hasil kerja kerasnya selama di sana namun yang terpenting adalah kenangan berharga tak terlupakan di tanah yang jauh nan ikonik itu.

Boarding School Islami Terbaik Solo

Perjalanan Hashiif memperlihatkan bahwa IDN Boarding School tidak hanya berfokus pada penguasaan IT, tetapi juga pada pembentukan karakter, etika kerja, dan kesiapan menghadapi tantangan dunia nyata. Melalui program-program unggulan seperti One Day with Principal, One Day with Parents, hingga IDN Menyapa Nusantara, siswa memperoleh pengalaman komprehensif yang sulit ditemukan di sekolah lain.

Bagi orang tua yang mencari sekolah Islam berbasis boarding (asrama) terbaik dengan pendekatan terpadu, menggabungkan kemampuan teknologi, pembinaan karakter, serta pengalaman lapangan, IDN Boarding School menghadirkan ekosistem terbaik untuk menyiapkan generasi yang kompeten, berakhlak, dan siap bersaing di dunia industri dan bisnis masa depan. Daftarkan segera anak tercinta di psb.idn.sch.id!

About Author

Husnul

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *